Ilmu Balaghah : Dilengkapi dengan contoh-contoh Ayat, Hadits Nabi dan Sair Arab

Khamim, Khamim and Subakir, Ahmad Ilmu Balaghah : Dilengkapi dengan contoh-contoh Ayat, Hadits Nabi dan Sair Arab. IAIN Kediri Press, Kediri. ISBN 978-602-8167-89-5

[img] Text
ilmu balaghah_2018_new.pdf

Download (2MB)

Abstract

Al-Qur’an dan hadits Nabi merupakan sumber agama Islam. Keduanya menggunakan bahasa arab dan keduanya hanya mengatur serta menyinggung hal-hal yang bersifat pokok, tidak menyebutkan uraian teknis secara rinci. Padahal keduanya dimaksudkan mampu menjadi rujukan semua persoalan kehidupan hingga akhir alam ini. Persoalan uraian teknis secara rinci, diserahkan kepada para tokoh agama untuk mampu menjabarkannya. Syaikh al-Ghulayayni menyatakan, bahwa untuk dapat memahami bahasa arab, sebagai bahasa al-Qur’an dan hadits Nabi dengan baik, dibutuhkan 13 macam ilmu. Tiga belas macam ilmu itu adalah, ilmu sharf, i'râb (nahw), rasm, ma'âni, bayân, badi', 'arûdl, qawafi, qardl al-syi‟r, insyâ‟, khithâbah, tarîkh adab dan matn al-lughah. Ilmu sharf digunakan untuk mempelajari bentuk-bentuk kata (abniyah al-alfâzh) sebelum dirangkai menjadi sebuah kalimat. Ilmu nahw untuk mempelajari cara baca (i'râb) kata yang telah dirangkai dalam sebuah kalimat. Ilmu bayan (balâghah dalam istilah ulama‟ muta‟akhkhirîn) mempelajari 3 macam ilmu, yaitu ilmu ma‟âni, ilmu bayân dan ilmu badî‟. Ilmu ma‟ani adalah ilmu yang mempelajari tentang cara memelihara kesalahan dalam mengemukakan maksud pembicara (mutakallim) agar dapat diterima oleh lawan bicara (mukhâthab). Ilmu bayân adalah ilmu yang memelihara timbulnya ta‟qîd ma‟nawi (kalimat yang tidak jelas petunjuknya terhadap makna yang dimaksud). Ilmu badî‟ adalah ilmu yang digunakan untuk memperindah kalimat (kalâm). Karenanya, ilmu badî‟ selalu didasarkan pada ilmu ma‟âni dan ilmu bayân di atas. Maksudnya, jika dua ilmu itu benar-benar diterapkan pada suatu kalimat, dengan sendirinya akan tampak keindahan kalimat itu sendiri. Jika suatu kalimat telah ditata berdasarkan ilmu ma‟âni dan bayân, dari segi lafazh ia disebut fashîh, karena pokok pembicaraan hanya pada lafal; dan dari segi lafal serta makna sekaligus, ia disebut balîgh, karena pokok pembicaraannya menyangkut lafal sekaligus makna, lagi pula balâghah dimaksudkan untuk menyampaikan isi hati seseorang. Jika dilihat dari ilmu badî‟, suatu kalimat tidak dapat disebut fashîh dan baliîgh, karena badî‟ hanya dimaksudkan memperindah kalimat bukan kata. Oleh karenanya, dalam mempelajari balaghat harus mengetahui terlebih dahulu fashâhah dan balâghah. Karena keduanya merupakan pokok dan tujuan inti mempelajari balâghah. Berdasarkan uraian al-Ghulayaini di atas dan untuk dapat memahami bahasa arab secara baik, khususnya bahasa alQur’an dan hadits Nabi, serta guna mendalami rahasia dan kemu’jizatan al-Qur’an, diperlukan menguasai, salah satunya, ilmu balâghah. Buku tentang Ilmu Balâghah ini berusaha mengemukakan uraian tentang fashâhat dan balâghah yang tergabung dalam satu keilmuan, yaitu Ilmu Balâghah dengan menggunakan sistematika yang mudah. Uraian dalam buku ini memuat tiga macam Ilmu Balâghah, yaitu Ilmu Ma‟âni, Ilmu Bayân dan Ilmu Badî‟ yang dilengkapi dengan bahasan masing-masing dan diperkuat dengan contoh-contoh dari ayat al-Qur’an, hadits Nabi dan syair-syair arab jâhili pada masing-masing bahasan tiga macam ilmu itu. Mengapa harus menggunakan sair-sair arab jâhili? Karena sair-sair arab telah ada dan berkembang sebelum turun ayat-ayat al-Qur’an serta terjadinya hadits-hadits Nabi saw.

Item Type: Book
Subjects: 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220403 Islamic Studies
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Jurusan Ilmu Hadits
Depositing User: Muhamad Hamim
Date Deposited: 23 Oct 2019 04:38
Last Modified: 23 Oct 2019 04:38
URI: http://repository.iainkediri.ac.id/id/eprint/61

Actions (login required)

View Item View Item